Takzim dan berkhidmat kepada Guru sudah menjadi tradisi di kalangan pengamal tarekat yang diwariskan secara turun temurun dari sejak zaman Nabi SAW. Tidak hanya dikalangan pengamal tarekat, di pasantren yang tidak mengajarkan tarekat juga telah terbiasa dengan sikap menghormati Guru atau orang lebih senior dari dia. Mencium tangan Guru atau ulama merupakan tradisi yang sudah terbiasa dan itu tidak dipertentangkan lagi kecuali oleh sebuah pemahaman yang muncul belakangan. Memang masih banyak yang keliru memahami kata Takzim (penghormatan tinggi) dan kata ibadah. Salah pemahaman ini yang menyebabkan kemudian dicampuradukkan kedua istilah tersebut. Sikap pengagungan disamakan dengan penyembahan.
Berdasarkan
pengertian salah ini mereka berpendapat bahwa bersikap khidmad dan
bersikap rendah diri di depan pusara Rasulullah SAW, pusara orang-orang
shaleh, mencium tangan orang-orang shaleh dan para wali, para penguasa
maupun orang kaya yang shaleh, dianggap juga sebagai sikap
berlebih-lebihan (ghuluw), yang menyeret orang kepada sesembahan selain
Allah SWT (syirik).
Saya
melihat sendiri bagaimana sikap kasar polisi yang menjaga makam Nabi
terhadap orang-orang yang memberi penghormatan (takzim) kepada makam
Nabi SAW, menetes air mata pun dianggap perbuatan syirik, menurut saya
pelarangan ini adalah sikap yang sudah berlebih-lebihan.
Saya
melihat sendiri bagaimana sikap rombongan habib dari Indonesia ketika
berkunjung ke Habib Abdullah bin Muhammad bin ‘Alwy bin Shahab di kota
tharim, Yaman. Mereka semua mencium tangan dan kaki Habib Abdullah
dengan penuh ta’zim. Sikap penghormatan kepada Auliya ini bukanlah
dibuat-buat akan tetapi memang sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW.
Dua
orang yahudi bertanya kepada Rasulullah saw tentang Sembilan ayat yang
diturunkan kepada Nabi Musa as. Nabi Muhammad SAW menjelaskan dengan
rinci tanpa kurang satu apapun. Kemudian kedua orang yahudi tersebut
mencium tangan dan kaki Baginda SAW (HR. Nasa’I, Ibnu Majah dan
Tirmidzi)
Abu
al-Syaikh dan Ibnu Mardhawih meriwayatkan dari sahabat Ka’ab bin Malik,
bahwa ia berkata, “Ketika turun ayat tentang (diterimanya) taubatku,
aku mendatangi Rasulullah dan mencium tangan dan lututnya”.
Dari
Buraidah ra, “Sesungguhnya seorang laki-laki telah datang kepada
Rasulullah SAW. Lantas mencium tangan dan kaki Beliau SAW”. (HR.
Al-Hakim dalam kita al-Mustadrak dan menyahihkannya)
Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari al-Saddi berkenaan dengan firman Allah SWT, Wahai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu bertanya (kepada Nabi SAW)
perkara-perkara yang jika diterangkan kepada kamu akan menyusahkan kamu
(QS. Al Maidah, 101). Setelah mendengar ayat ini, Syaidina Umar r.a
bangun menuju Nabi Saw. Dan mencium kaki baginda Rasulullah saw.
Di
dalam kitab Sharim al-Maslul oleh Ibnu Taimiyyah yang mengambil riwayat
hadist dari Ibnu al-Arabi dan al-Bazzar, “Sesungguhnya seorang lelaki
menyaksikan mukjizat sebatang pohon datang kepada Rasulullah saw.,
kemudian kembali ketempat semula. Lelaki itu berkata sambil berdiri
kemudian terus mencium kepala, tangan dan kaki Rasulullah saw.” Menurut
riwayat Ibnu al-Arabi, “Lelaki tersebut meminta izin kepada Nabi SAW
untuk mencium beliau. Nabi saw pun mengizinkan. Maka lelaki tersebut
kemudian mencium kepala dan kaki Baginda saw”.
Disamping ta’zim kepada Nabi dengan mencium tangan dan kaki Nabi, diantara sesame sahabat juga melakukan hal yang sama.
Imam
al-Bukhari meriwayatkan dalam kitabnya al-Adab al-Mufrad (hadist no
976) dengan sanad shahih bahwa Sahabat Ali bin Abi Thalib mencium tangan
dan kaki Abbas bin Abdul Muthalib. Padahal Syaidina Ali juga sahabat
yang mulia. Karena Syaidina Abbas disamping pamannya juga seorang yang
shaleh.
Dari Shuhaib, ia berkata, “Saya melihat Sahabat Ali mencium tangan sahabat Abbas dan kakinya” (HR. Bukhari).
Dari
Ibnu Jad’an, ia berkata kepada Anas bin Malik, “Apakah engkau pernah
memegang Nabi dengan tangan ini?”. Sahabat Anas berkata, “Iya”. Lalu
Ibnu Jad’an mencium tangan Anas tersebut (HR. Bukhari dan Ahmad).
Masih
riwayat lain tentang sikap ta’zim para sahabat kepada sahabat lain dan
tradisi ini diwariskan secara terus menerus sampai kepada zaman
sekarang.
Diriwayatkan
dengan sanad yang shahih bahwa Imam Muslim mencium tangan Imam Bukhari.
Imam Muslim berkata kepadanya, “Seandainya anda mengizinkan, pasti ku
cium kaki anda”. Tidak mungkin Imam Muslim mau mencium tangan dan kaki
Imam Bukhari kalau tindakan tersebut salah, sebagaimana pemahaman
dangkal dari satu kelompok yang muncul akhir-akhir ini.
Berdasarkan
riwayat yang kami sampaikan di atas bahwa Takzim kepada ulama apalagi
Guru Mursyid sebagai Ulama Pewaris Nabi adalah tradisi yang telah ada
sejak zaman nabi, terpelihara terus menerus sampai sekarang ini.
Sesuai
hukum alam, air hanya mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah, dan
arus listrik hanya mengalir jika positif dan negatif bertemu, begitu
juga dengan karunia Allah swt Maha Akbar, Maha Agung, Maha Positif hanya
bisa mengalir ke hati para hamba-Nya yang selalu merendah, selalu
takzim kepada para kekasih-Nya.
SUMBER https://sufimuda.net/2017/03/20/takzim-kepada-guru/